Minggu, 25 November 2018

Kenapa jadi ise?

Jadi gini.  Dulu, pada setiap kelahiran anak barunya ayah akan selalu memanggil dengan nama usu.  Entah dengan alasan apa, yang jelas dari anak pertama sampai pada diriku, bahkan kini panggilan itu disematkan kepada kedua adikku. Dulu aku heran bukannya panggilan USU itu pendeknya dari kata bungsu? Yang menandakan bahwa itu panggilan untuk anak terakhir atau bungsu.  Tapi, ayah memanggil USU pada semua anaknya mulai dari s cikal sampai pada anak terakhirnya.
Yang membuat aku paling g suka adalah, dengan pelesetan teteh yang memanggilku justru bukan USU tapi ise. Beda dengan yang lain yang memanggilku USU dia sendiri yang memanggilku ise.  Marah rasanya kalo dipanggil ide aku merasa aku ini dicemooh.  Tapi teteh(kakak ku) tetap saja kekeh dengan panggilan itu. Setelah lama semakin lama tahun pun sudah bertambah lagi kebiasaan itu tetap saja, panggilan itu tetap saja, "use".
Akhirnya aku pun terbiasa dengan panggilan tersebut dan setelah lama lama akupuntur sadar mungkin itu panggilan kesayangan teteh untukku. Bahkan kini anggota keluarga lainpun memanggilku 'ise'.  Akupuntur kian hari kian nyaman dan senang dengan panggilan itu.  Ternyata aku mencintai panggilan kesayangan itu.  Sampai kini. Sampai aku tua. Sampai anak anak ayah tidak ada lagi yang dipanggil USU karena semuanya sudah pada dewasa.  Sementara aku tetep dipanggilnya 'ise'.  Aku bangga aku bahagia dipanggil ini.
He he mohon maaf rada ngalantur. Tapi, mohon maklum ini postingan perdana 🤣🤣🤣

Tidak ada komentar:

Posting Komentar